Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2016

Membangun Karakter Anak Usia Dini


Membangun Karakter Anak Usia Dini
Oleh: Dra. Nana Prasetyo, M. Si.

Menumbuhkan rasa aman dan nyaman adalah dasar yang utama dalam membentuk karakter anak, yang kemudian dapat menumbuhkan rasa ”berarti”, ”berharga” atau ”bernilai” pada anak. Karakter bangsa merupakan aspek penting yang menentukan kemajuan suatu bangsa. Karakter bangsa sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya (SDM). Oleh karena itu, karakter yang berkualitas perlu dibina sejak usia dini agar anak terbiasa berperilaku positif. Kegagalan penanaman kepribadian yang baik di usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasanya kelak.

Senin, 01 Juni 2015

Review Buku


Identitas Buku
                   Judul Buku      : Sejarah Peradaban Islam
Penulis             : Dr. Badri Yatim, M.A.
Penerbit           : PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Pencetak          :Kharisma Putra Utama Offset
Cetakan           : 20
Tahun              : 2008
Kota                : Jl. Pelepah hijau IV TN.1.No 14-15, Kelapa gading permai, Jakarta 14240
Tebal buku      :338 hlm, 2,1 cm
B.     Isi Buku
Buku ini mengulas tentang sejarah peradaban Islam yang penjelasannya di awali dengan penjelasan keadaan negara Arab sebelum datangnya Islam sampai dengan peradaban Islam di Indonesia. Untuk lebih sistematisnya saya akan menguraikan kandungan buku ini dari bab per bab.
Dalam Bab I diterangkan tentang definisi peradaban Islam yang mana secara bahasa peradaban Islam diambil dari kata alhadaroh al-islamiyah yang berartikan “kebudayaan Islam”. Kebudayaan Islam merupakan landasan dari peradaban Islam, sedangkan landasan kebudayaan adalah agama Islam itu sendiri.

motivasi

Mengotori Langit 3 Votes Mengotori Langit Suatu hari seorang lelaki pemarah menemui Sang Kakek. Dia mendamprat Kakek dengan kata-kata kasar. Sang Kakek mendengarkanya dengan sabar, tenang, dan tidak berkata sepatah pun. Akhirnya lelaki itu berhenti memaki. Setelah itu, Kakek bertanya kepadanya,”Jika seseorang memberimu sesuatu tapi kamu tidak menerimanya, lalu menjadi milik siapakah pemberian itu ?” “Tentu saja menjadi milik si pemberi.” Jawab orang itu. ”Begitu pula dengan kata-kata kasarmu,” timpal Kakek .”Aku tidak mau menerimanya, jadi itu adalah milikmu. Kamu harus menyimpannya sendiri. Aku mengkhawatirkan kalau nanti kamu harus menanggung akibatnya, karena kata-kata kasar hanya akan membuahkan penderitaan. Sama seperti orang yang ingin mengotori langit dengan meludahinya. Ludahnya hanya akan jatuh mengotori wajahnya sendiri.” Lelaki itu mendengarkan Sang Kakek dan merasa malu. Ia meminta maaf dan kemudian pergi
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Total Pageviews

Recent in Culture

Flickr

Business

Titulo

Text Widget

Text Widget

About Me

Followers

Facebook

Ads

Theme Support

Ordered List

Facebook

Most Popular